“Lukas’ Moment” Film Terakhir di Program BSF

30 04 2009

“Lukas’ Moment” Film Terakhir di Program BSF

 

Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga kembali menggelar program pemutaran film bulanan Bamboe Shocking Film (BSF). Pemutaran akan digelar pada Sabtu, 25 April 2009, di Café Bamboe, Jl. Jend. Sudirman 126 Purbalingga, mulai pukul 19.30 WIB sampai selesai.

 

Bulan ini, pemutaran memasuki BSF ke-17 yang berarti sudah tiga tahun program BSF digelar sejak 2007 silam. Di bulan ini pula, CLC berniat menghentikan program bulanan BSF untuk beberapa saat berbenah secara internal. “Pasca Purbalingga Film Festival yang akan digelar pada 21-23 Mei 2009, kami akan mengoreksi program-program yang telah digelar selama ini sembari mempersiapkan program ke depan,” tutur Manager Program CLC Trisnanto Budidoyo.

 

Bagi kami, lanjut Trisnanto, rentang tiga tahun waktu yang cukup panjang untuk setiap bulan menyiapkan sebuah program pemutaran. Terkadang melewati penonton yang banyak bahkan berlebih, tak jarang pula dengan penonton yang pas-pasan. Namun bukan hanya kuantitas penonton yang menjadi ukuran keberhasilan. “Dikala penonton yang sedikit namun punya keseriusan dalam menonton, itu juga penanda berhasil,” ujarnya.

 

Dokumenter Papua

Film yang akan diputar terakhir di program BSF adalah film dokumenter besutan sutradara Aryo Danusiri bertajuk “Lukas’ Moment”. Film berdurasi 60 menit ini berlatar cerita Papua, provinsi paling ujung timur Indonesia.

 

Namun, jangan disangka film ini memvisualkan eksotisme alam Papua atau sekedar menampilkan wajah etnik dan cenderung primitif secara penghidupan dari negeri Papua seperti stereotipe film-film dokumenter lainnya.

 

Film yang diproduksi tahun 2005 dan sempat menyabet penghargaan The Best Student Film di RAI International Ethnographic Film Festival Oxford, UK ini bercitra lain. “Lukas’ Moment” berkisah mengenai perjalanan Lukas, pemuda nelayan suku Marind yang  tinggal di pinggiran kota Merauke, Papua. Drama dibangun dari tekadnya membangun usaha distribusi udang yang mandiri, lepas dari ketergantungan jaringan bisnis tengkulak yang menjerat.

 

Aryo Danusiri yang juga seorang antropolog dalam film karyanya ini menangkap tokoh Lukas dari kehidupan keseharian yang intim dan observasional. “Lukas’ Moment” menjadi karya master tesis Aryo di jurusan Antropologi Visual di salah satu universitas di Norwegia.

Film dokumenter lain yang diputar adalah soal perseteruan babak baru para pegiat CLC dengan Satpol PP Pemkab Purbalingga. Film berdurasi 7 menit ini mengungkap saat-saat pelarangan pemasangan baliho Purbalingga Film Festival 2009 hingga baliho berhasil dinaikkan. Untuk kemudian diturunkan oleh Satpol PP keesokan harinya.

 

Pemutaran kedua film dokumenter ini diharapkan membuka mata kita bersama arti penting film itu sendiri, sebagai bukti otentik terkait kisah, kehidupan, dan sejarah manusia.

 

 

http://purbalinggafilmfest.blogspot.com

http://clc-purbalingga.blogspot.com





DVD Playing Between Elephants

22 04 2009

41utt0lcxcl_sl500_aa240_

@Amazon.com

Product Description
Rebuilding personal and collective confidences through a participatory process takes time, especially amidst the massive personal tragedy of lost loved ones, personal assets and livelihoods. This photo and film documentation is testimony of all that we have all learned during the past two years. As a testimony, we hope it can be an inspiring tool for any person or institution overcoming a future disaster.This publication includes a DVD with the documentary film ‘Playing between Elephants’ by film maker, Aryo Danusiri





Pre-Production Research of New Media Operetta to Oaxaca, Mexico

18 04 2009

going-to-schoolDuring Spring Break Aryo Danusiri and Edgar Barroso explored the state of Oaxaca in order to compile sound and visual materials to include in our Interdisciplinary New Media Performance. This project is conducted under a collaborative project with Juan de Dios Vázquez and Yen-Ting Cho and funded by The Film Study Center Harvard








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.